Tampilkan postingan dengan label Pasar Bebas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Bebas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2009

Kades Diminta Buka Rekening Bank

Pampangan, AgungPost
Kepentingan desa merupakan tanggung jawab pemerintah desa dan masyarakatnya agar desa tersebut berkembang seperti desa-desa lainnya yang sudah lebih dulu menikmati kemajuan.
Kepada "Agung Post" Camat Pampangan, Ahmad SSos MM mengatakan, dalam upaya pemerintah untuk menghindari pemotongan dana bantuan ke desa maka dihimbau pada para Kepala desa membuka rekening bank yang sudah ditunjuk. Kita berharap bila dana-dana pembangunan desa itu cair agar para kades bermusyawarah dengan perangkat desa, BPD serta pemuka masyarakat setempat dalam mereali-sasikannya untuk kepentingan berbagai pembangunan yang dibutuhkan masyarakat setem-pat.
Selain itu katanya, musya-warah mufakat dalam seti- ap program pembangunan insya"Allah hasil pembangunan itu akan berdampak positif serta akan lebih terjaga kebera-daannya. (dim)

Alihkan Door Frize ke Jalan Rusak

Oleh : HM Sarifuddin Basrie

JALAN Payaraman-Tam-bangan Rambang, semakin hari memprihatinkan apalagi bila hujan turun siang dan malam. Ironisnya tidak ada inisiatif para pejabat dikawasan itu untuk mengajak masyarakat bergo-tong-royong menimbun atau sekedar meratakan bagian-bagian yang berlobang-lobang bak danau singkarak itu. Seharusnya, para pejabat didaerah ini kalau mau berbuat dan masuk lorong sejarah dimata masyarakat, bisa saja mengajak masyarakat dibe-berapa desa yang melewati jalan itu untuk berholopis kuntul baris.
Namun, untuk urusan jalan-jalan yang berstatus, jalan kabupaten, jalan provinsi, apalagi jalan negara, belum ada para kades, camat, termasuk bupati, mengerahkan rakyat untuk bergotongroyong mem-perbaiki (sementara menunggu anggaran) jalan-jalan tersebut bila sedang rusak parah seperti jalan Payaraman - Tambangan Rambang saat ini. Padahal masyarakat di desa manapun, bila dikerahkan para kadesnya untuk gotongroyong kampung cukup setia mematuhi ajakan pemerintah desanya itu. Kepedulian dan inisiatif seperti ini mestinya bisa dilakukan para camat bersama kades apalagi kalau bupati yang menghimbau. Dan sangat diyakini bila pola gotongroyong seperti ini diterapkan untuk kepentingan apapun dan dimanapun insya'Allah jalan-jalan yang vital sebagai sarana transportasi masyarakat tidak akan rusak parah seperti kebanyakan terjadi diberbagai daerah saat musim hujan.
Gotongroyong masyarakat ini memang harus dikomando oleh pemerintah, sebab sangat sulit kalau hanya mengandalkan inisiatif dari masyarakat non pemerintah. Memang mengam-bil inisiatif dijalan-jalan seperti ini masih dianggap tabuh oleh pemerintah (bupati, camat, apalagi kades) padahal sebenarnya ini adalah hal biasa saja bahkan bagi seorang camat atau bupati bila berinisiatif seperti ini bisa menambah refutasinya dimasyarakat dan pemerintahan. Berbuat hal-hal yang dianggap tidak populer tapi bisa mempopulerkan ini memang memerlukan inisiatif yang tinggi dari individu seorang pejabat.
Kalau kita sadari perbuatan ini, apa bedanya dengan bergo-tong-royong, menanam seribu pohon mengerahkan rakyat atau kegiatan jalan santai rame-rame mengajak anak sekolah dan pegawai serta masyarakat umum atau mengadakan turnamen olah raga, yang memberikan berbagai hadiah-hadiah menarik atau doorprize.
Kalau saja ada individu pejabat atau organisasi masa yang berinisiatif untuk meng-gelar kegiatan gotongroyong memperbaiki jalan-jalan-jalan rusak didaerahnya dengan memberikan door prize insya'Allah masyarakat akan berduyun-duyun mengikutinya. Tapi, inisiatif yang tinggi ini kebanyakan datang dari "Pak Oga" atau "Nak Oga" untuk sekedar mencari pembeli rokok atau mencari uang jajan.
Padahal pengaruh dari inisiatif ini pasti sangat luas dan dikenang masyarakat, karena tadinya jalan itu rusak parah dan sulit dilalui, tapi karena dikerahkan gotong-royong arus lalu lintas jadi lancar. Mudah-mudahan saja bagi pembaca berita lepas ini ada yang tertarik untuk berinisiatif menjadi sponsor atau donatur untuk menggelar kegiatan gotong-royong memperbaiki jalan rusak parah berdoorprize.

20 Persen Dana Pendidikan Belum Final

Jakarta, Agung Post
Anggaran pendidikan 20 persen dari APBN bukan sudah final.Pemerintah akan terus berupaya meningkat anggaran tersebut dari waktu ke waktu sesuai dengan kemampuan keuangan negara.
"Dari waktu ke waktu anggaran tersebut bisa 22%, 25% atau lebih tinggi lagi. Jadi tidak hanya terpaku di angka 20% saja. Mentang-mentang telah mencapai 20% lalu tetap saja seperti itu, tidak. Angka itu akan bergerak terus. Jangan lihat 20% sebagai angka minimum tapi angka yang terus berkembang," Demikian Wapres, Jusuf Kalla ditengah berlangsungya silaturahmi dengan Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) di Jakarta, Kamis kemarin.
Dan lanjutnya, selama pendidikan di Indonesia belum mencapai kualitas terbaik, pemerintah akan terus mengupayakannya dengan segala daya upaya. "Pemerintah akan mencari cara meningkatkan kualitas pendidikan dengan segala upaya karena ekonomi, pengetahuan, pembangunan dll akan maju dengan landasan pendidikan yang baik. Semuanya akan kita tuntaskan secara bertahap," terang Kalla.
Dia juga mengingatkan anggaran pendidikan besar bukan merupakan tujuan melainkan cara untuk mencapai tujuan. Anggaran pendidikan tersebut merupakan salah satu cara mencapai tujuan untuk memakmurkan bangsa. "Tidak akan maju suatu bangsa tanpa pendidikan yang maju," katanya. (net/mi/ap)

Bulog Targetkan 50 Persen Pengadaan Beras

Jakarta, Agung Post
Saat ini Perum Bulog baru merealisasikan pengadaan beras sebesar 1,9 juta ton atau baru 50 persen dari target. Tahun 2009 ini Bulog menargetkan pengadaan beras sebanyak 3,8 juta ton atau lebih tinggi dari realisasi tahun 2008 hanya mencapai 3,2 juta ton.
Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Mustafa Abubakar dalam sambutanya diacara peresmian pembukaan lokakarya regional ASEAN dalam rangka ulang tahun Bulog ke-42 tahun di Balai Kartini, Jumat kemarin.
"Pengadaan sampai saat ini 1,9 juta ton beras, atau 50 persen dari total target pengadaan beras 2009," jelas Mustafa.
Mustafa mengakui untuk mencapai target pengadaan beras 2009 tidaklah mudah. Namun pihaknya akan tetap optimis mencapai target dengan menekankan pening-katan efektivitas dan produktivitas kinerja.
Pencapaian pengadaan beras tahun lalu yang cukup sukses telah membuat ketergantungan impor beras Indonesia telah dihentikan sejak tahun 2008. Dengan demikian bisa menghemat devisa negara sebesar USD 0,5 miliar. Bahkan pengadaan beras telah berdampak pada berputarnya uang sebesar 13 triliun rupiah ke desa-desa selama setahun. Keber-hasilan Bulog dalam menekan lonjakan harga beras, telah membuat kepercayaan diri Bulog untuk masuk ke komoditi lainnya seperti gula, jagung dan kedele.
"Neraca keuangan Bulog yang semula defisit 500 miliar rupiah, saat ini (2008) surplus 102 miliar rupiah," katanya. (net/kbi/ap).